Minggu, 09 November 2014

Beranikah Kita Jujur Pada Diri Sendiri?


                Sebuah percakapan singkat dengan dengan teman satu kelas saya di bangku kuliah membuat saya tergerak untuk segera membuat tulisan ini. Waktu itu sedang diadakan UTS (Ujian Tengah Semester), dan secara kebetulan saya duduk berdekatan dengan bangku teman saya itu. Ketika UTS berlangsung (saat itu sedang UTS mata kuliah Bahasa Inggris), tentu semua sibuk dengan soal yang ada di mejanya masing-masing, tetapi secara berkala teman saya bermaksud melihat kertas jawaban yang sedang saya kerjakan. Karena soalnya tidak begitu banyak, dan tersisa banyak waktu kami pun sempat memperbincangkan tentang UTS mata kuliah yang lain.
                Ketika obrolan sampai pada hal contek-mencontek, menurut teman saya selama yang dilakukannya hanya berkenaan masalah dunia, itu tidak apa-apa. Sedangkan yang saya katakan saat itu adalah bahwa saya lebih memilih untuk mengikuti ujian ulangan atau kalau memang harus mengulang tahun depan itupun bukan sebuah masalah, yang penting saya telah jujur kepada diri saya sendiri.
                Yah, urusan contek-mencontek memang selalu terlihat sebagai masalah sepele. Semua pelajar di negeri ini tidak ada yang tidak pernah mendengar kata tersebut. Dan memang mencontek adalah urusan sepele jika yang melakukan adalah anak-anak (yang belum bisa membedakan mana baik mana buruk), itupun akan berdampak sangat fatal bagi perkembangan si anak jika terus menerus bergantung pada temannya (di sini peran guru dan orang tua yang akan berpengaruh).
                Tetapi jika yang melakukan adalah seorang yang sudah dikatakan dewasa, maka itu tidak bisa lagi dikatakan masalah sepele. Jika kita lihat realita saat ini (banyak pejabat yang korup, tidak jujur, masalah uang sogokkan dalam proses penerimaan PNS dan masalah lain yang berhubungan dengan kepercayaan dan amanah), itu semua adalah pepohonan, yang mana benihnya adalah dari kebiasaan kecil seperti mencontek.
                Memang, itu (mencontek saat ulangan) tidak merugikan orang lain baik secara materi atau fisik. Tetapi sadarkah kita bahwa saat kita sudah dewasa dan tetap seperti itu, sama artinya dengan kita membohongi diri kita sendiri, berpura-pura mempunyi kompetensi yang baik padahal tidak sebenarnya. Kita berusaha membuat orang lain percaya bahwa kita sudah menguasai materi padahal kita tahu dengan pasti kita belum menguasai itu.
                Dalam rentang waktu yang panjang, pembiasaan dari kebiasaan ini akan memunculkan orang-orang yang korup, jahat dan tidak bertanggung jawab.
Jangan takut mengakui jika memang itu adalah kemampuan kita. Menjadi berani bukan berarti ketika kita melakukan hal-hal yang dilarang, ianya adalah menunjukkan kita apa adanya. Dan menjadi kuat adalah bukan dengan mengangkat beban yang berat, tetapi mengendalikan nafsu kita.
                Selalu ada tempat untuk orang-orang yang berlaku baik. Hidup adalah proses, mulailah menghargai diri kita dengan menampilkan yang terbaik yang kita bisa. Tempat-tempat yang menyenangkan selalu menunggu orang-orang baik untuk datang. Jadi, belajarlah dengan tekun agar kita bisa menampilkan yang lebih dan lebih baik lagi. Belajar dan datangilah, tepat pada waktunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar