Sebuah percakapan
singkat dengan dengan teman satu kelas saya di bangku kuliah membuat saya
tergerak untuk segera membuat tulisan ini. Waktu itu sedang diadakan UTS (Ujian
Tengah Semester), dan secara kebetulan saya duduk berdekatan dengan bangku
teman saya itu. Ketika UTS berlangsung (saat itu sedang UTS mata kuliah Bahasa
Inggris), tentu semua sibuk dengan soal yang ada di mejanya masing-masing,
tetapi secara berkala teman saya bermaksud melihat kertas jawaban yang sedang
saya kerjakan. Karena soalnya tidak begitu banyak, dan tersisa banyak waktu kami
pun sempat memperbincangkan tentang UTS mata kuliah yang lain.
Ketika obrolan
sampai pada hal contek-mencontek, menurut teman saya selama yang dilakukannya
hanya berkenaan masalah dunia, itu tidak apa-apa. Sedangkan yang saya katakan
saat itu adalah bahwa saya lebih memilih untuk mengikuti ujian ulangan atau
kalau memang harus mengulang tahun depan itupun bukan sebuah masalah, yang
penting saya telah jujur kepada diri saya sendiri.
Yah,
urusan contek-mencontek memang selalu terlihat sebagai masalah sepele. Semua pelajar
di negeri ini tidak ada yang tidak pernah mendengar kata tersebut. Dan memang mencontek
adalah urusan sepele jika yang melakukan adalah anak-anak (yang belum bisa
membedakan mana baik mana buruk), itupun akan berdampak sangat fatal bagi
perkembangan si anak jika terus menerus bergantung pada temannya (di sini peran
guru dan orang tua yang akan berpengaruh).
Tetapi jika
yang melakukan adalah seorang yang sudah dikatakan dewasa, maka itu tidak bisa
lagi dikatakan masalah sepele. Jika kita lihat realita saat ini (banyak pejabat
yang korup, tidak jujur, masalah uang sogokkan dalam proses penerimaan PNS dan
masalah lain yang berhubungan dengan kepercayaan dan amanah), itu semua adalah
pepohonan, yang mana benihnya adalah dari kebiasaan kecil seperti mencontek.
Memang,
itu (mencontek saat ulangan) tidak merugikan orang lain baik secara materi atau
fisik. Tetapi sadarkah kita bahwa saat kita sudah dewasa dan tetap seperti itu,
sama artinya dengan kita membohongi diri kita sendiri, berpura-pura mempunyi
kompetensi yang baik padahal tidak sebenarnya. Kita berusaha membuat orang lain
percaya bahwa kita sudah menguasai materi padahal kita tahu dengan pasti kita
belum menguasai itu.
Dalam rentang
waktu yang panjang, pembiasaan dari kebiasaan ini akan memunculkan orang-orang
yang korup, jahat dan tidak bertanggung jawab.
Jangan takut mengakui jika memang
itu adalah kemampuan kita. Menjadi berani bukan berarti ketika kita melakukan
hal-hal yang dilarang, ianya adalah menunjukkan kita apa adanya. Dan menjadi
kuat adalah bukan dengan mengangkat beban yang berat, tetapi mengendalikan
nafsu kita.
Selalu ada
tempat untuk orang-orang yang berlaku baik. Hidup adalah proses, mulailah
menghargai diri kita dengan menampilkan yang terbaik yang kita bisa. Tempat-tempat
yang menyenangkan selalu menunggu orang-orang baik untuk datang. Jadi, belajarlah
dengan tekun agar kita bisa menampilkan yang lebih dan lebih baik lagi. Belajar
dan datangilah, tepat pada waktunya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar